Thursday, 7 March 2013

Pemberian garam pada makanan bayi


Rasa pada makanan sangat memengaruhi selera makan bayi. Biasanya rasa yang manis dan gurih membuat mereka semakin lahap makan, sebaliknya jika rasanya hambar tak jarang bayi akan memuntahkan kembali makanannya.

Namun tahukah Anda, bahwa pemberian garam pada makanan bayi berbahaya? Mengapa? Karena, reaksi bayi terhadap garam sangat sensitif. Begitu bayi mengkonsumsi makanan yang mengandung garam tekanan darahnya akan melonjak tinggi. Hal ini dapat berdampak jangka panjang.

Usahakan makanan yang diberikan pada bayi di satu tahun pertama tidak diberikan garam sama sekali karena di dalam ASI, sayuran, kacang-kacangan dan daging sebenarnya sudah terdapat kandungan garam alami yang mencukupi kebutuhan bayi.

Mungkin kita merasakan bubur bayi terasa hambar, karena selera makan kita sudah terbiasa dengan rasa asin. Namun, pada bayi, langit-langit mulutnya belum berkembang sempurna, bayi belum memiliki preferensi rasa asin. Jadi tak perlu khawatir , makanan yang kita anggap hambar, untuk bayi enak-enak saja.

Alasan lain tidak bolehnya pemberian garam pada bayi yaitu karena ginjal bayi yang belum dapat memproses garam dalam jumlah tinggi. Sistem pencernaan yang dimiliki bayi masih sangat rapuh, sedangkan ginjal merupakan salah satu organ bayi yang paling rapuh. Terlalu banyak garam dari sumber selain makanan alami seperti ASI, susu formula, sayur dan buah-buahan, dapat merusak ginjal bayi, bahkan dapat menyebabkan kerusakan otak.

Kebutuhan garam bagi anak usia 6-12 bulan hanya 1 gram per hari dengan kandungan natrium 0,4 gram. Jumlah ini sudah cukup dari pemberian ASI dan makanan pendamping ASI. Untuk anak dengan usia yang lebih besar, kebutuhan garam sedikit lebih banyak. Usia 1-3 tahun butuh sampai 2 gram per hari (mengandung natrium 0,8 gram). Di usia inilah penambahan garam dapat dilakukan dengan maksimal ¼ sendok teh garam dapur sehari.

No comments:

Post a Comment